Rabu, 11 November 2015

DAUR KARBON

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
EKOLOGI PERTANIAN

DAUR KARBON











KHAYATU KHOIRI
05121407020











PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Praktikum ini dilakukan untuk untuk mengetahui hubungan antara produksen dan konsumen dalam ekosistem. Siklus karbon itu sendiri adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi. Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer.
Daur karbon merupakan bagian dari daur energi. Reaksi fotosintesis sangat esensial untuk daur karbon maupun daur energi, melalui proses fotosintesis tersebut karbon dioksida berhubungan dengan mahluk hidup. Melalui proses fotosintesisnya tumbuhan hijau berperan dalam daur karbon, karbon diubah menjadi karbohidrat dengan bantuan energi matahari dan pigmen klorofil.   Reaksi tersebut biasanya terjadi dihutan-hutan padang rumput dan juga dirumput laut dilautan. Dalam daur karbon,karbon dioksida dibutuhkan tumbuhan yang kemudian akan dikonsumsi hewan, ikan dan manusia untuk kebutuhan sel dan energi. Dalam bentuk karbon dioksida dikembalikan kealam, bila hewan atau tumbuhan tersebut .mati akibat kerja mikroorganisme karbon akan dikembalikan kebumi.  Sumber utama karbon untuk mahluk hidup ada di udara. Dalam bentuk karbondioksida jumlahnya kira-kira 0,03 % dari volume. CO2 diudara akan difiksasi ke dalam jaringan hidup melalui fotoautotrof tanaman dan ganggang.  Pada kondisi anaerob karbondioksida direduksi menjadi (CH4) oleh mikroorganisme Bakteri Methylococcus maupun mengoksidasi methan menjadi karbon. Aspek penting lain dari daur karbon adalahreaksi non biologi yaitu pertukaran antara karbon dioksida dan bikarbonat yang umumnya terjadi dalam perairan pada kondisi tertentu karbonat akan berpresipitasi dengan membentuk batu kapur (lime stone).
Meskipun karbon merupakan unsur yang sangat langka dalam sektor bumi yang tidak hidup tetapi didalam benda hidup terdapat 18%. Kemampuan saling mengikat pada atom-atom karbon merupakan dasar untuk keragaman molekular dan ukuran molekular dan tanpa ini tidak akan ada.  Selain pada bahan organik, karbon sebagai gas karbon dioksida dan sebagai batuan karbonat (koral). Yang sangat membutuhkan senyawa hijau yang dapat menetralkan. Umumnya karbon ditemui berupa hasil pembakaran dari dalam tubuh mahluk hidup, dan hal ini biasanya diseimbangkan dengan adanya tumbuhan hijau sebagai perombak karbon menjadi oksigen sebagai pembentuk siklus karbon itu sendiri.
CO2 yang dihasilkan oleh proses respirasi akan dilepas kembali kelingkungan, kemudian akan digunakan untuk fotosintesis tumbuhan hijau begituseterusnya. Dari kedua kegiatan tersebut tampak bahwa fotosintesis dan respirasisaling bekerja sama untuk kelangsungan siklus karbon dan oksigen. Sejumlah karbonuntuk sementara berada dalam jaringan tumbuhan atau hewan, tetapi karbon tersebutakan kembali ke siklus setelah tumbuhan atau hewan tersebut mati kemudiandiuraikan oleh makhluk pengurai. Jika sisa-sisa bahan organik dari pembusukanhewan dan tumbuhan tertimbun dalam lapis tanah lebih dari 600 juta tahun makakarbon dikandung akan keluar dari siklus karbon yang utama. Tetapi oleh panas akantekanan dalam lapis kerak bumi zat tersebut akan diubah menjadi bahan bakar fosilmisalnya batubara, minyak bumi dan gas bumi.

B.        Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal komponen-komponen yang terdapat didalam ekosistem dan kedudukanya dalam ekosistem tersebut.


II. TINJAUAN PUSTAKA
A. HIDRYLLA
1) Sistematika
GANGGANG HIJAU (Hydrilla Vercillata)
Regnum : plantae
Divisi : Magnoliophyta
Sub divisi : Angiospermae
Class : Liliopsida
Sub class : Alismatidae
Ordo : Hydrocharitales
Family : Hydrocharitaceae
Genus : Hydrilla
Spesies : Hydrilla verticillata
2) Deskripsi
Hydrilla Verticillata (Ganggang)
a. Putih kekuningan
b. Batang tumbuh 1-2 m panjang
c. kelopak panjang 3-5 mm
d. Transparan dengan garis-garis merah
e. Bunga yang jarang terlihat
f. Pelepah daun sering kemerahan ketika segar
3) Syarat tumbuh
  Tanaman yang sering di sebut Hidrila ini tumbuh di perairan kadang dengan akar tidak tertanam di tanah.

B. SIPUT
1). Sistematika
Kerajaan :Animalia
Filum :Mollusca
Kelas :Gastropoda
2). Deskripsi
binatang moluska, kulitnya berbentuk spiral, banyak macamnya, hidup di darat, di laut, dan dl air tawar, dagingnya dapat dimakan; (nomina)
3). Habitat
Siput dapat ditemukan pada berbagai lingkungan yang berbeda: dari parit hingga gurun, bahkan hingga laut yang sangat dalam. Sebagian besar spesies siput adalah hewan laut. Banyak juga yang hidup di darat, air tawar, bahkan air payau. Kebanyakan siput merupakan herbivora, walaupun beberapa spesies yang hidup di darat dan laut dapat merupakan omnivora atau karnivora predator. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebun (Helix sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.)

C. DAUR KARBON
Daur karbon merupakan bagian dari daur energi. Reaksi fotosintesis sangat esensial untuk daur karbon maupun daur energi, melalui proses fotosintesis tersebut,karbon maupun daur energi, melalui proses fotosintesis tersebut karbondioksida hubungan sebagai mahluk hidup. Melalui proses fotosintesisnya tumbuhan hijau berperan dalam siklus karbon, karbon diubah menjadi karbondioksida kemudian diubah menjadi karbohidrat dengan bantuan energi matahari dan pigmen klorofil. Dalam daur karbon, karbondioksida dibutuhkan tumbuhan, yang kemudian akan dikonsumsi hewan, ikan atau manusia untuk kebutuhan sel dan energi. Dalam bentuk karbon dioksida dikembalikan ke alam, bila hewan atau tumbuhan tersebut mati akibat kerja mikroorganisme karbon akan dikembalikan ke bumi.Sumber utama karbon untuk makhluk hidup berada dalam udara, dalam bentuk karbon dioksida jumlahnya kira-kira 0,03% dari volume. Karbon dioksida diudara akan difiksasi ke dalam jaringan hidup melalui fotoototrof tanaman dan ganggang, kemudian ototrof tersebut akan dikonsumsi oleh heterotrof, yang akan menggunakan karbon tersebut untuk energi dan pertumbuhannya.
Karbondioksida juga akan terlarut dalam air dan tanah dan dapat membentuk ion bikarbonat. Karbon dapat diperoleh juga dari pembakaran kayu dan fosil yang akan menghasilkan karbon dioksida ke atmosfer, pada keadaan kekurangan oksigen karbon dioksida dapat diubah menjadi karbon monoksida, species tertentu mikroorganisme gas toksik tersebut dan akan mengubah menjadi karbon dioksiba dan energi. Dari hasil penelitian sumber karbon dalam bentuk glukosa atau maltosa meningkatkan aktifitas enzim dalam sel Bacillus sp. Pada kondisi anaerob karbondioksida direduksi menjadi metan (CH¬4) oleh mikroorganisme. Bakteri Methylococcus mampu mengoksidasi metan menjadi karbon dioksida.  Aspek penting lain dari karbon adalah reaksi nonbiologi yaitu pertukaran antara karbon dioksida, karbonat dan bikarbonat yang umum terjadi dalam perairan. Pada kondisi tertentu karbonat akan berpresipitasi dengan membentuk batu kapur.
Tumbuhan hijau dan hewan serta organisme yang lain berperan aktif dalam kelangsungan siklus karbon. CO2 merupakan salah satu komponen pokok untuk berlangsungnya fotosintesis. Dengan bantuan energi cahaya maka CO2 merupakan salah satu komponen pokok untuk berlangsungnya fotosintesis. Dengan bantuan energi cahaya maka CO2 dan H2O oleh tumbuhan hijau akan diubah menjadi senyawa organik berupa glukosa (C6H12O6) dan Oksigen ( O2) melalui reaksi yang disederhanakan sebagai berikut : C6 H12 O6 = 6O2à6 C O2 + 6 H2 O.  Oksigen dihasilkan dalam fotosintesis tersebut akan dimanfaatkan oleh hewan dan organisme lain untuk respirasi. Dari proses respirasi tersebut akan dihasilkan CO2H2O dan energi melelui persamaan reaksi yang disederhanakan sebagai berikut :  6CO2 + 6H2O + EnergiàC6H12O6 + 6O2  CO2 yang dihasilkan dalam respirasi tersebut akan dilepas kembali ke lingkungan, kemudian akan digunakan untuk fotosintesis tumbuhan hijau begitu seterusnya.
Dari kedua kegiatan tersebut tampak bahwa fotosintesis dan respirasi saling bekerja sama untuk kelangsungan siklus karbon dan oksigen. Sejumlah karbon untuk sementara berada dalam jaringan tumbuhan atau hewan, tetapi karbon tersebut akan kembali ke siklus setelah tumbuhan atau hewan tersebut mati kemudian diuraikan oleh makhluk pengurai. Jika sisa-sisa bahan organik dari pembusukan hewan dan tumbuhan tertimbuan dalam lapis tanah lebih dari 600 juta tahun maka karbon dikandung akan keluar dari siklus karbon yang utama. Tetapi oleh panas akan tekanan dalam lapis kerak bumi zat tersebut akan diubah menjadi bahn baker fosil misalnya batubara, minyak bumi dan gas bumi. Jika bahan baker fosil tersebut digunakan sebagai bahan bakar dalam berbagai industri maka karbon yang dikandung akan dilepas kembali ke lingkungan dalam bentuk CO2 sebagai hasil proses pembakaran. Selanjutnya CO2 tersebut akan digunakan kembali oleh tumbuhan hijau untuk fotosintesis begitu seterusnya.
Kehilangan karbon dalam aktivitas pertanian, misalnya karena penambahan karbon ke atmosfere lebih banyak dari pada karena disebabkan diikatnya oleh tanaman-tanaman tidak dapat menggantikan karbon yang dilepaskan dari tanah. Dalam siklus karbon, proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler menyediakan suatu hubungan antara lingkunganatmosfer dan lingkungan terestrial. Tumbuhan mendapatkan karbon, dalam bentuk CO2 dari atmosfer melalui stomata daunnya dan menggabungkannya ke dalambahan organik biomassanya sendiri melalui proses fotosintesis. Sejumlah bahanorganik tersebut kemudian menjadi sumber karbon bagi konsumen. Respirasi olehsemua organisme mengembalikan CO2 ke atmosfer (Hadietomo, 2003)
Karbon tersimpan dalam bentuk molekul karbondioksida (C2) dan oksigen dalam betuk molekul oksigen yaitu O2. Karbon diikiat oleh tanaman dalam proses fotosintesis dan dihasilkan bahan organik. Bila bahan ini dioksidasikan akan menghasilkan kembali karbondioksida. Dari proses fotosintesa diatas selain dihasilkan bahan organik berupa karbohidrat juaga dihasilkan oksigen. Bahan organik hasil fotosintesa berpindah ke herbivore dan pemangsa dan kembali ke cadangan melalui respirasi dan kegiatan bakteri. Sisa bahan organik yang tidak dilapuk melalui proses-proses geologicklainnya akan membentuk gambut, batu bara dan minyak bumi. Gambut dan batu bara mengandung karbon terikat, besarnya kandungan tergantung pada tingkat pelapukannya. Bahan tambang ini akan meng
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).
Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer. (Suwasono, 1987)
Karbon adalah bahan penyusun dasar semua senyawa organik. Pergerakan melalui suatu ekosistem berbarengan dengan pergerakan energi, melebihi zatkimia lain; karbohidrat dihasilkan selama fotosintesis, dan CO2 dibebaskanbersama energi selama respirasi.
Tumbuhan hijau dan hewan serta organisme yang lain berperan aktif dalam kelangsungan siklus karbon. CO2 merupakan salah satu komponen pokok untuk berlangsungnya fotosintesis. Dengan bantuan energi cahaya maka CO2 merupakan salah satu komponen pokok untuk berlangsungnya fotosintesis. Dengan bantuan energi cahaya maka CO2 dan H2O oleh tumbuhan hijau akan diubah menjadi senyawa organik berupa glukosa (C6H12O6) dan Oksigen ( O2) melalui reaksi yang disederhanakan sebagai berikut :
 C6 H12 O6 = 6 O2à6 C O2 + 6 H2 O
Oksigen dihasilkan dalam fotosintesis tersebut akan dimanfaatkan oleh hewan dan organisme lain untuk respirasi. Dari proses respirasi tersebut akan dihasilkan CO2H2O dan energi melelui persamaan reaksi yang disederhanakan sebagai berikut :
 6CO2 + 6H2O +àC6H12O6 + 6O2  Energi
CO2 yang dihasilkan dalam respirasi tersebut akan dilepas kembali ke lingkungan, kemudian akan digunakan untuk fotosintesis tumbuhan hijau begitu seterusnya. Dari kedua kegiatan tersebut tampak bahwa fotosintesis dan respirasi saling bekerja sama untuk kelangsungan siklus karbon dan oksigen.
Sejumlah karbon untuk sementara berada dalam jaringan tumbuhan atau hewan, tetapi karbon tersebut akan kembali ke siklus setelah tumbuhan atau hewan tersebut mati kemudian diuraikan oleh makhluk pengurai. Jika sisa-sisa bahan organik dari pembusukan hewan dan tumbuhan tertimbuan dalam lapis tanah lebih dari 600 juta tahun maka karbon dikandung akan keluar dari siklus karbon yang utama. Tetapi oleh panas akan tekanan dalam lapis kerak bumi zat tersebut akan diubah menjadi bahn baker fosil misalnya batubara, minyak bumi dan gas bumi. Jika bahan baker fosil tersebut digunakan sebagai bahan bakar dalam berbagai industri maka karbon yang dikandung akan dilepas kembali ke lingkungan dalam bentuk CO2 sebagai hasil proses pembakaran. Selanjutnya CO2 tersebut akan digunakan kembali. (Suasono1987).


III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Praktikum Daur karbon ini dilaksanakan pada pukul 12.30WIB – 14.20 WIB pada hari Selasa, tanggal 19 Maret 2013.
Praktikum ini dilaksanakan dilobolatorium Ekologi jurusan budidaya pertanian  Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Tabung biakan tertutup, Rak tabung reaksi, Siput kecil (sebagai konsumen), Hidrilla (sebagai produsen), Larutan Bromotimol biru, Air, Cahaya (ruang terang), dan Kamar gelap.

C. Cara Kerja
1. Siapkan dua percobaan A dan B, masing-masing terdiri dari empat tabung biakan. Tandai biakan-biakan ini dengan kode A1, A2, A3, A4 dan B1, B2, B3, B4. Rangkaian percobaan A dan B sama sama seperti gambar satu.
2. Isilah setiap tabung dengan air sampai permukaan air kira-kira 20 mmdibawah mulut tabung.
3. Tambahkan 3-5 tetes bromotimol biru kedalam tabung.
4. Masukanlah kedalam biakan tabung A1 dan B1 hewan siput, kedalam biakan A2  dan B2 hewan siput dan hidrylla,  kedalam tabung A3 dan B3 masukan hidrylla saja, dan kedalam tabung A4 dan B4 tidak dimasukan siput maupun hidrilla.
5. Tutup semuatabung biakan rapat-rapat, usahakan agar tutup tersebut tidak bocor.
6. Tempatkan rangkaian percobaan A dalam tempat terang dan rangkaian percobaan B dalam kamar gelap.
7. Setelah 24 jam,amati semua tabung biakan, catatlah semua perubahan dalam warna indikator (Bromotimol biru). Catatlah juga bila terjadi perubahan pada siput maupun Hidrylla. Setelah itu pindahkan tabung biakan A kedalam kamar gelap dan tabung B ketempat terang setelah 24 jam lakukan lagi pengamatan dan pemindahan tabung. Pengamatan dilakukan selama 7 hari.
8. Buatlah data hasil pengamatan selama beberapa hari tersebut. Bagaimana kesimpulan saudara tentang daur karbon pada percobaan ini.


















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Pengamatan pertama pada hari selasa tanggal 19 maret 2013
Tabung Perubahan
Biotik Abiotik
Syput hydrilla Biru jernih
A1 Hidup - Biru jernih
A2 Hidup Hidup Biru jernih
A3 - Hidup Biru jernih
A4 - - Biru jernih
B1 Hidup - Biru jernih
B2 Hidup Hidup Biru jernih
B3 - Hidup Biru jernih
B4 - - Biru jernih
Pengamtan ke dua pada hari selasa tanggal 26 maret 2013
Tabung Perubahan
Biotik Abiotik
Siput hydrilla air
A1 mati - Keruh
A2 Hidup Habis jernih
A3 - Hidup jernih
A4 - - jernih
B1 Hidup - Jernih
B2 Hidup Habis Keruh
B3 - Hidup jernih
B4 - - Biru jernih
B. PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini kita dapatkan hasil yang bermacam-macam dengan
perlakuan yang berbeda. Misalnya pada Air brotimol yang diberi perlakuan dengan memasukkan siput dan Hydrilla yang dalam satu minggu warnanya akan berubah menjadi agak keruh hal ini dapat dikarenakan oleh adanya karbon yang dihasilkan oleh siput yang mengakibatkan timbulnya warna keruh pada air media biakan namun dapat dinetralisasikan sedikit oleh adanya Hydrilla yang mampu merombak karbon menjadi oksigen. Sedangkan pada botol yang berisikan siput saja, warna akan berubah menjadi keruh sekali hal ini dikarenakan karbon yang dikeluarkan oleh siput dan tidak adanya perombak karbon dalam hai ini adalah Hydrilla. Botol yang berisikan Hydrilla saja, warnanya tetap jernih hal ini dikarenakan tidak adanya siput atau mahluk hidup yang menghasilkan karbon yang dapat merubah warna air menjadi keruh.Dan pada indikator warna tetap biru seperti awal karena tidak ada reaksi karbon yang terjadi sebab tidak diberi perlakuan apa-apa.
           Dari hasil yang telah kita peroleh dapat dilihat bahwa organisme-organisme yang mati terlebih dahulu terdapat pada tabung yang diberi perlakuan ditempat gelap, hal ini karena tidak terjadi fotosintesis ditempat gelap karena tidak tersedianya cahaya pada tempat gelap. Organisme-organisme tersebut membutuhkan zat O2, CO2, dan karbohidrat. Peristiwa yang ditunjukkan dengan perubahan warna pada bromtimol biru adalah peristiwa respirasi, karena peristiwa respirasi menghasilkan CO2 yang sangat sensitif terhadap bromtimol biru, kesensitifan ini dapat dilihat dengan adanya perubahan warna pada bromtimol biru. Apabila terjadi respirasi yang cukup banyak, tabung tersebut tampak berembun. Pada tabung A4 dan B4 bromtimol biru tidak mengalami perubahan warna, karena tabung-tabung tersebut hanya berisi dengan air kolam dan bromtimol biru, tidak terdapat organism didalamnya, tabung-tabung ini hanya berfungsi sebagai kontrol. Dari rancangan paercobaan dapat dilihat bahwa fungsi tabung A4 dan tabung B4 hanya berfungsi sebagai control atau sebagai pembanding untuk dapat mengetahui apakah percobaan yang telah dilakuakan berhasil atau tidak.
Hasil yang diperoleh adalah semua organisme yang ditempatkan ditempat gelap akan mati semua karena tidak tersedianya cahaya untuk produsen melakuakan proses fotosintesis, tanpa adanya O2 yang dihasilkan pada proses fotosintesis, konsumen tidakl dapat hidup dan melakuakn proses respirasi. Pada tabung A4 dan B4 bromtimol biru tidak mengalami perubahan warna, karena tabung-tabung tersebut hanya berisi dengan air kolam dan bromtimol biru, tidak terdapat organism didalamnya, tabung-tabung ini hanya berfungsi sebagai kontrol. Hasil yang diperoleh adalah semua organisme yang ditempatkan ditempat gelap akan mati semua karena tidak tersedianya cahaya untuk produsen melakuakan proses fotosintesis, tanpa adanya O2 yang dihasilkan pada proses fotosintesis, konsumen tidakl dapat hidup dan melakuakn proses respirasi. Disini siklus karbon berperan atau berjalan jika berubah menjadi kuning yang sebelumnya indikatornya berwarna biru.
CO2 yang dihasilkan dalam respirasi tersebut akan dilepas kembali ke
lingkungan, kemudian akan digunakan untuk fotosintesis tumbuhan hijau begitu seterusnya. Dari kedua kegiatan tersebut tampak bahwa fotosintesis dan respirasi saling bekerja sama untuk kelangsungan siklus karbon dan oksigen. Sejumlah karbon untuk sementara berada dalam jaringan tumbuhan atau hewan, tetapi karbon tersebut akan kembali ke siklus setelah tumbuhan atau hewan tersebut mati kemudian diuraikan oleh makhluk pengurai. Jika sisa-sisa bahan organic dari pembusukan hewan dan tumbuhantertimbuan dalam lapis tanah lebih dari 600 juta tahun maka karbon dikandung akan keluar dari siklus karbon yang utama. Tetapi oleh panas akan tekanan dalam lapis kerak bumi zat tersebut akan diubah menjadi bahn baker fosil misalnya batubara, minyak bumi dan gas bumi. Jika bahan baker fosil tersebut digunakan sebagai bahan baker dalam berbagai industri maka karbon yang dikandung akan dilepas kembali ke lingkungan dalam bentuk CO2 sebagai hasil proses pembakaran. Selanjutnya CO2 tersebut akan digunakan kembali oleh tumbuhan hijau untuk fotosintesis begitu seterusnya. Pada siklus karbon ini baik produsen maupun konsumen memilki peran masing-masing yang tentu saja sangat penting dalam proses terjadinya hubungan antara produsen dan konsumen. Untuk dapat mengetahuinya kita dapat mempelajarinya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Produsen dan konsumen sangat berhubungan erat, hai ini dapat kita lihat dari praktikum yang telah dilaksanakan bahwa siput sangat membutuhkan Hydrillauntuk siklus karbon dan oksigen didalam praktikum daur karbon.
Apabila tidak ada hydrilla maka siklus karbon pada siput kecil akan terputus karena tidak adanya perombakan karbon menjadi oksigen kembali.
Sedangkan pada botol yang berisikan siput kecil saja, warna akan berubah menjadi keruh sekali hal ini dikarenakan karbon yang dikeluarkan oleh siput kecil dan tidak adanya perombak karbon dalam hai ini adalah Hydrilla.
Botol yang berisikan Hydrilla saja, warnanya tetap jernih hal ini dikarenakan tidak adanya siput kecil atau mahluk hidup yang menghasilkan karbon yang dapat merubah warna air menjadi keruh.
Dan pada indikator warna tetap biru seperti awal karna tidak ada reaksi karbon yang terjadi sebab tidak diberi perlakuan apa-apa.

2. Saran
Sebaiknya pada praktikum ini para praktikan agar dapat lebih memperhatikan dan memahami prosedur kerja yang ditunjukkan oleh para asisten supaya mendapatkan hasil yang lebih memuaskan.






VI. DAFTAR PUSTAKA
Amir, A. 1981. Biologi umum. Gramedia. Jakarta.
Anshory, I. 1984. Biologi umum. Genesa Exact. Bandung.
Hadi Ahmad, ratna Sari. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT. Gramedia:
             Jakarta.
Kamajaya.1996. Sains Biologi. Ganeca Exact. Bandung.
Sowasono, Haddy. 1987. Biologi Pertanian. Rajawali Press, Jakarta.









LAMPIRAN

ANALISIS VEGETASI METODE GARIS MENYINGGUNG

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
EKOLOGI PERTANIAN

ANALISIS VEGETASI
METODE GARIS MENYINGGUNG










KHAYATU KHOIRI
05121407020











PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Keanekaragaman spesies, ekosistem dan sumberdaya genetik semakin menurun pada tingkat yang membahayakan akibat kerusakan lingkungan. Perkiraan tingkat kepunahan spesies di seluruh dunia berkisar antara 100.000 setiap tahun, atau beberapa ratus setiap hari. Kepunahan akibat beberapa jenis tekanan dan kegiatan, terutama kerusakan habitat pada lingkungan alam yang kaya dengan keanekaragam hayati, seperti hutan hujan tropik dataran rendah. Bahkan dalam kurun waktu dua setengah abad yang akan datang diperkirakan sebanyak 25% kehidupan akan hilang dari permukaan bumi. Hal tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia yang mengarah pada kerusakan habitat maupun pengalihan fungsi lahan. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena kita ketahui keanekaragaman hayati mempunyai peranan penting sebagai penyedia bahan makanan, obat-obatan dan berbagai komoditi lain penghasil devisa negara, juga berperan dalam melindungi sumber air, tanah serta berperan sebagai paru-paru dunia dan menjaga kestabilan lingkungan (Budiman, 2004).
Indonesia memiliki berbagai macam penggunaan lahan, mulai dari yang paling ekstensif misalnya agroforestri kompleks yang menyerupai hutan, hingga paling intensif seperti sistem pertanian semusim monokultur. Indonesia juga merupakan salah satu negara tropis yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di dunia, baik flora maupun fauna yang penyebarannya sangat luas (Heriyanto dan Garsetiasih, 2004). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18 Tahun 1994 menyatakan bahwa potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya tersebut perlu dikembangkan dan dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat melalui upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, sehingga tercapai keseimbangan antara perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari.
Pohon memegang peranan yang sangat penting dalam komunitas hutan dan berfungsi sebagai penyangga kehidupan, baik dalam mencegah erosi, dan menjaga stabilitas iklim global. Pohon-pohon di pegunungan memiliki kondisi yang khas di mana pohon akan bertambah rendah atau kecil seiring dengan naiknya ketinggian dan memiliki keanekaragaman jenis yang bervariasi.
Hutan wisata alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir, merupakan bagian dari hutan yang ada di Indonesia yang keberadaannya perlu mendapat perhatian dari semua lapisan masyarakat. Untuk itu, kiranya perlu dilakukan suatu penelitian analisis vegetasi pohon dan pendugaan karbon tersimpan yang terdapat di dalamnya.
Kepunahan keanekaragaman hayati sebagian besar karena ulah manusia. Kepunahan oleh alam, berdasarkan catatan para ahli hanya sekitar 9% dari seluruh keanekaragaman hayati yang ada dalam kurun waktu sejuta tahun. Saat ini, kepunahan keanekaragaman hayati di daerah tropis akibat ulah manusia mencapai 1.000 sampai 10.000 kali laju kepunahan yang terjadi secara alami (Alikodra dan Syaukani, 2004 dalam Widhiastuti, 2008). Untuk melestarikan keanekaragaman hayati di suatu ekosistem cara yang paling efektif adalah melestarikan komunitas hayati secara utuh. Bahkan para Ahli Biologi Konservasi mengatakan konservasi pada tingkat komunitas merupakan satusatunya cara yang efektif untuk melestarikan spesies. Hal ini terutama mengingat dalam situasi penangkaran, dan sumber pengetahuan yang kita miliki hanya dapat menyelamatkan sebagian kecil saja spesies yang ada di bumi (Widhiastuti, 2008).
Hutan pegunungan bagian bawah mempunyai fisiognomi yang menyerupai hutan, hanya pohon-pohonnya yang tumbuh lebih kecil. Begitu pula komposisinya juga agak berbeda. Pada ekosistem ini biasanya kaya akan jenis Orchidaceae dan Pteridophyta. Di sampinsg itu pada umumnya dihuni oleh berbagai jenis tetumbuhan antara lain dari famili: Anonaceae, Burseraceae, Bambosaceae, Dipterocarpaceae, Leguminoceae, Meliaceae, Sapindaceae,dan Sapotaceae.

b. Tujuan
Untuk Mengetahui komposisi jenis, peranan, penyebaran dan struktur dari suatu tipe vegetasi yg diamati.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m.
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat. Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar.
Laju pemanasan di pegunungan tidak serupa laju pemanasan di dataran rendah. Pantulan panas dari permukaan bumi lebih kuat digunung oleh karena tekanan udara yang rendah. Laju penurunan suhu pada umumnya sekitar 0,6o C setiap penambahan ketinggian sebesar 100 meter, tetapi hal ini berbeda-beda tergantung kepada tempat, musim, waktu, kandungan uap air dalam udara dan lain sebagainya (Damanik et al, 1992).  Pada umumnya, curah hujan pada lereng bawah pegunungan itu lebih lebat ketimbang pada lokasi di sekelilingnya. Penyebab keadaan ini adalah karena udara yang panas dari lokasi itu menjadi dingin pada waktu dipaksa naik mengikuti lereng pegunungan. Hal ini menyebabkan penurunan daya tambat air oleh udara, sehingga kelebihan air dalam udara itu membentuk awan yang menyebabkan hujan. Sampai suatu ketinggian tertentu terdapat kenaikan curah hujan pada lereng bukit, tetapi di atas ketinggian itu pengembunan uap air dari udara tidak cukup untuk membentuk banyak hujan. Sebagai akibat sebaran hujan itu, sering terdapat hutan yang lebih subur pada ketinggian rendah dan menengah ketimbang pada lokasi yang berbatasan (Ewusie, 1990). Banyak tumbuhan di tempat-tempat tinggi juga memperoleh kelembaban dari tetes-tetes air dari awan yang menempel pada daun dan batangnya. Karena persentase kejenuhan suatu massa udara meningkat bila suhu turun, kelembaban hutan di tempat-tempat yang tinggi relatife tinggi, terutama pada waktu malam (Mackinnon et al, 2000)
Pohon-pohon menjadi organisme dominan di hutan tropis, bentuk kehidupan pohon berpengaruh pada physiognomi umum, produksi dasar dan lingkaran keseluruhan dari komunitas. Banyak ciri-ciri pohon tropis berbeda dengan daerah lain mengingat terdapat ciri-ciri tertentu dan kebiasaan bercabang, dedaunan, buahbuahan dan sistem akar yang jarang dan tidak pernah dijumpai di bagian bumi lain. Untuk keperluan inventarisasi, pohon dibedakan menjadi stadium seedling, sapling, pole, dan pohon dewasa. Soerianegara dan Indrawan (1978)  membedakan sebagai berikut:
Seedling (semai) yaitu permudaan mulai kecambah sampai setinggi 1,5 m.
Sapling (pancang, sapihan) yaitu permudaan yang tingginya 1,5 m dan lebih     sampai pohon-pohon muda yang berdiameter kurang dari 10 cm.
Pole (tiang) yaitu pohon-pohon muda yang berdiameter 10 - 35 cm.
Pohon dewasa yaitu pohon yang berdiameter lebih dari 35 cm yang diukur 1,3 meter dari permukaan tanah.
Sebagian besar hutan alam di Indonesia termasuk dalam hutan tropika basah Banyak para ahli yang mendiskripsi hutan tropika basah sebagai ekosistem spesifik, yang hanya dapat berdiri mantap dengan keterkaitan antara komponen penyusunnya sebagai kesatuan yang utuh. Keterkaitan antara komponen penyusun ini memungkinkan bentuk struktur hutan tertentu yang dapat memberikan fungsi tertentu pula seperti stabilitas ekonomi, produktivitas biologis yang tinggi, siklus hidrologis yang memadai dan lain-lain.
Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999).  Hutan adalah suatu wilayah luas yang ditumbuhi pepohonan, termasuk juga tanaman kecil lainnya seperti, lumut, semak belukar, herba dan paku-pakuan. Pohon merupakan bagian yang dominan diantara tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan. Berbeda letak dan kondisi suatu hutan, berbeda pula jenis dan komposisi pohon yang terdapat pada hutan tersebut. Sebagai contoh adalah hutan di daerah tropis memiliki jenis dan komposisi pohon yang berbeda dibandingkan dengan hutan pada daerah temprate. Hutan alami merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi bila dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan (SPL) pertanian, dikarenakan keragaman pohon yang tinggi (arief 1994).
Hutan-hutan Indonesia menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan 3,5 milliar ton karbon (Daniel, 1992).  Hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang klimaks. Tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalam hutan ini tidak pernah menggugurkan daunnya secara serentak, kondisinya sangat bervariasi seperti ada yang sedang berbunga, ada yang sedang berbuah, ada yang dalam perkecambahan atau berada dalam tingkatan kehidupan sesuai dengan sifat atau kelakuan masing-masing jenis tumbuh-tumbuhan tersebut.
Hafild & Aniger (1984) hutan adalah masyarakat tetumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk  dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Keputusan Menteri Kehutanan RI, No.70/Kpts- II/2001). Hutan pegunungan adalah hutan yang tumbuh di daerah ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan air laut (Arief, 1994). Menurut Damanik et al, (1992) ketinggian rata-rata tempat dari berbagai tipe hutan pegunungan di Sumatera kira-kira adalah sebagai berikut:
1.      Daerah ketinggian 0 . 1.200 meter di atas permukaan laut, disebut dataran rendah
2.      Daerah ketinggian 1.200 . 2.100 meter di atas permukaan laut, disebut hutan pegunungan bagian bawah.
3.      Daerah ketinggian 2.100 . 3.000 meter di atas permukaan laut, disebut hutan pegunungan bagian atas.
4.      Daerah ketinggian di atas 3.000 meter diatas permukaan laut, disebut hutan subalpin.
Hutan basah dapat tersebar sangat luas dan sering kali sangat lebat pada lereng-lereng bagian bawah di gunung-gunung. Tipe vegetasi mintakat gunung lebih mirip dengan daerah iklim sedang, atau dengan kata lain lebih sesuai dengan hutan basah daerah iklim sedang (Ewusie, 1990). Hutan pegunungan bagian bawah mempunyai fisiognomi yang menyerupai hutan, hanya pohon-pohonnya yang tumbuh lebih kecil. Begitu pula komposisinya juga agak berbeda. Pada ekosistem ini biasanya kaya akan jenis Orchidaceae dan Pteridophyta. Di sampinsg itu pada umumnya dihuni oleh berbagai jenis tetumbuhan antara lain dari famili: Anonaceae, Burseraceae, Bambosaceae, Dipterocarpaceae, Leguminoceae, Meliaceae, Sapindaceae,dan Sapotaceae (Indrianto 2006).
Hutan pegunungan bagian atas merupakan ekosistem yang mempunyai fisiognomi tetumbuhannya tergantung pada ketinggian dan topografi habitatnya. Komposisi botanik hutan ini lebih menyerupai hutan di daerah iklim sedang. Pada habitat yang berbatu-batu ditumbuhi vegetasi yang berbentuk semak-semak rendah atau pohon-pohon kecil, kerdil atau bercabang rendah. Di samping itu ada kalanya dijumpai jenis pohon conifer atau jenis vegetasi berbunga.
Vegetasi merupakan unsur yang dominan yang mampu berfungsi sebagai pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang alamiah dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbulkan dari daun, bunga maupun buahnya, Kimball (2005) menyatakan bahwa hutan hujan tropis mencapai perkembangan sepenuhnya pada bagian belahan bumi sebelah barat dan mencapai perkembangan sepenuhnya di bagian tengah dan selatan,sangat beragam spesiesnya. Disana, jarang dijumpai dua pohon dari spesies yang sama tumbuh berdekatan.vegetasinya sedemikian rapat sehingga cahaya sangat sedikit yang sampai kedasarhutan.
Wilayah hutan hujan tropis mencakup ± 30% dari luas permukaan bumi dan terdapat mulai dari Amerika Selatan, bagian tengah dari benua Afrika, sebagian anak benua India, sebagian besar wilayah Asia Selatan dan wilayah Asia Tenggra, gugusan kepulauan di samudra Pasifik, dan sebagian kecil wilayah Australia. Pada umumnya wilayah hutan hujan tropis dicirikan oleh adanya 2 musim dengan perbedaan yang jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Ciri lainnya adalah suhu dan kelembaban udara yang tinggi, demikian juga dengan curah hujan,
Menurut Soedjiran et all (1993) hutan hujan tropis (tropical rain forest) terdapat di daerah tropis yang basah dengan curah hujan yang tinggi dan tersebar sepanjang tahun, seperti di Amerika tengah dan selatan, Asia tenggara, Indonesia dan Australia timur laut. Dalam hutan ini pohon-pohonnya tinggi dan pada umumnya berdaun lebar dan selalu hijau, jumlah jenis besar. Sering terdapat paku-paku pohon, tanaman merambat berkayu liana yang sering dapat mencapai puncak pohon-pohon yang tinggi dan epifit. Hutan ini kaya akan jenis-jenis hewan invertebrata dan vertebrata.
Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam, yaitu metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan) dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang bersangkut paut dengan Sumber Daya Alam (Latifah, 2005).
Dari segi floristis ekologis pengambilan sampling dengan cara “random sampling” hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systematic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu.
Luas daerah contoh vegetasi yang akan diambil datanya sangat bervariasi untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 1 m2 sampai 100 m2.



III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
a. Waktu dan Tempat
Praktikum analisis vegetasi dengan metode garis menyinggung dilaksanakan pukul 12.30WIB – 14.20 WIB pada hari Selasa, tanggal 09 April 2013.
Praktikum ini dilaksanakan dilahan Sawit jurusan budidaya pertanian  Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya.

b. Alat dan Bahan      
Pada praktikum analisis vegetasi metoda kuadran dan study floristik ini
dibutuhkan alat dan bahan, yaitu : 1) sebuah komunitas tumbuhan tertentu sebagai objek praktikum 2) tali rafia 3) benang 4) meteran  5) alat tulis 6) perlengkapan pembuatan herbarium 7) patok tanda pembatas 8) buku-buku identifikasi 9) dll.

c. Cara Kerja
a. Terhadap tipe-tipe vegetasi  yang diamati yang didalamnya dibuat jalur-jalur transek. Jalur-jalur transek tersebut dimulai dari titik yang pada dasarnya ditentukan secara acak sistematika atau titik awal secara acak dan selanjutnya sistematik tetapi tidak didaerah Ekoton.
b. Jalur-jalur transek tersebut dibagi kedalam interval-interval. Setiap interval dapat dianggap sepadan dengan unit petak contoh. Daerah ini dianggap sebagai satuan terkecil analisis vegetasi
c. Individu yang tersinggung garis transek baik yang terletak diatas maupun dibawah garis tersebut merupakan jenis yang diamati dan dicatat datanya.
d. Data yang tercatat dari masing-masing individu itu adalah berupa pengukuran panjang transek yang terpotong dan lebar maksimum tajuk tumbuhan yang diproyeksikan kedalam transek.
e. Untuk individu yang terukur yang tidak dikenal dilapangan, maka harus diidentifikasi dilaboratorium. Untuk hal ini harus diambil contoh herbarium.
f. Data darei lapangan  disajikan kedalam :
1. Jumlah individu yang terhitung (N)
2. Jumlah panjang transek yang terpotong (I)
3. Jumlah banyak interval yang diduduki oleh suatu jenis terhadap keseluruhan     jumlah interval dalam penarikan contoh
4. Jumlah kebalikan dari maksimum lebar penutupan jalur transek ( ∑ 1/M )























IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. HASIL
Hari / Tanggal Jumlah Gulma Jenis Gulma Tinggi Gulma
Selasa, 9 April 2013 33 Senduduk 70 cm
5 Akasia 55 cm
7 Paku 75 cm
69 Teki-tekian 47 cm
1 Bludru 92 cm



b. PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan kelompok kami , kelompok V didapatkan pembahasan bahwa Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990). Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
               Penarikan contoh (sampling) harus menggunakan metode sampling yang tepat, karena jika tidak hasil yang diperoleh akan bias. Ada beberapa metode sampling yang biasa dipelajari, yaitu, Metode Plot (Berpetak) Suatu metode yang berbentuk segi empat atau persegi (kuadrat) ataupun lingkaran. Biasanya digunakan untuk sampling tumbuhan darat, hewan sessile (menetap) atau bergerak lambat seperti hewan tanah dan hewan yang meliang. Untuk sampling tumbuhan terdapat dua cara penerapan metode plot, yaitu
a.       Metode Petak Tunggal, yaitu metode yang hanya satu petak sampling yangmewakili suatu areal hutan. Biasanya luas minimum ini ditetapkan dengan dar penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah spesies lebih     5 % atau 10 %.
b.      Metode Petak Ganda, yaitu pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan banyak petak contoh yang letaknya tersebar merata (sebaiknya secara sistematik). Ukuran berbeda-beda berdasarkan kelompok tumbuhan yang akan dianalisis. Perbandingan panjang dan lebar petak 2 : 1 merupakan alternatif terbaik daripada bentuk lain.
            Metode Transek (Jalur). Untuk vegetasi padang rumput penggunaan metode plot kurang praktis. Oleh karena itu digunakan metode transek, yang terdiri dari :
Line Intercept (Line Transect), yaitu suatu metode dengan cara menentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m atau 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Garis transek kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya 1 m, 5 m atau 10 m. Selanjutnya dilakukan pencatatan, penghitungan dan pengukuran panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut.
a.       Belt Transect, yaitu suatu metode dengan cara mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi. Transek dibuat memotong garis topografi dari tepi laut ke pedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek 10 – 20 m dengan jarak antar transek 200 – 1000 m (tergantung intensitas yang dikehendaki). Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang digunakan 2 % dan hutan yang luasnya 1.000 Ha atau kurang intensitasnya 10 %.
b.      Strip Sensus, yaitu pada dasarnya sama dengan line transect hanya saja penerapannya ekologi vertebrata terestrial (daratan). Metode ini meliputi berjalan sepanjang garis transek dan mencatat spesies-spesies yang diamati di sepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi (indeks kepadatan).
            Metode Kuadran pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian. Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya.






V. KESIMPULAN DAN SARAN
a. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Analisis Vegetasi Metode
Titik menyinggung dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ditemukan 18 jenis pohon yang termasuk dalam 12 famili dengan jumlah individu sebanyak 301 individu.
2. Struktur pohon pada lokasi penelitian didominasi oleh Gordonia sp.
3. Komposisi Pohon pada lokasi penelitian didominasi oleh Gordonia sp
4. Metoda kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh (plotless).
5. Metoda ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tihang, contoh vegetasi hutan.

b. Saran
Diharapkan dapat mengetahui pengertian tentang analisis vegetasi metoda garis menyinggung dan cara perlakuannya, diharapkan lebih memahami dalam praktikum ini. Diharapkan waktu yang digunakan dalam prakikum ini disesuaikan dengan keadaan mahasiswa praktikan.  Mengikuti praktikum ini hendaknya lebih sabar.










VI. DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. 1994. Hutan: Hakikat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan. Jakarta:
           Penerbit Yayasan Obor Indonesia.
Damanik, J.S., J. Anwar., N. Hisyam., A. Whitten. 1992. Ekologi Ekosistem       jikaadaSumatera. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Daniel, T.W., J.A. Helms, F.S. Baker. 1992. Prinsip-Prinsip     jikaadaSilvinatural. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Ewusie, J.Y. 1990. Ekologi Tropika. Bandung: Penerbit ITB
Hafild & Aniger. 1984. Lingkungan Hidup di Hutan Hujan Tropika. Cet 1. Jakarta:
Penerbit Sinar Harapan
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara.







LAMPIRAN











ANALISIS VEGETASI METODE KUADRAN

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
EKOLOGI PERTANIAN

ANALISIS VEGETASI
METODE KUADRAN










KHAYATU KHOIRI
05121407020











PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Vegetasi merupakan masyarakat tumbuhan yang hidup di dalam suatu tempat dalam suatu ekosistem. Masyarakat tumbuhan ( komunitas ) adalah kumpulan populasi tumbuhan yang menempati suatu habitat.  Jadi pengertian komunitas identik dengan pengertian vegetasi. Bentuk vegetasi dapat terbentuk dari satu jenis komunitas atau disebut dengan konsosiasi seperti hutan vinus , padang alang-alang dan lain-lain. Sedangkan yang dibentuk dari macam-macam jenis komunitas disebut asosiasi seperti hutan hujan tropis, padang gembalaan dan lain-lain.
Dalam mempelajari vegetasi , dibedakan antara studi floristic dengan analisis vegetasi, dibedakan antara studi floristic denan analisis vegetasi. Pada studi floristic data yang diperoleh berupa data kualitatif, yaitu data yang menunjukan bagaimana habtus dan penyebaran suatu jenis tanaman. Sedangkan analisis vegetasi data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantiatif. Data kuantitatif menyatakan jumlah , ukuran , berat kering , berat basah suatu jenis. Frekuensi temuan dan luas daerah yang ditumbhinya. Data kuantitatif di dapat dari hasil penjabaran pengamatan petak contoh lapangan, sedangkan data kualitatif didapat dari hasil pengamatan dilapangan berdasarkan pengamatan yang luas.
Dalam mengerjakan analisis vegetasi ada dua nilai yang di amati , yaitu nilai ekonomi dan nilai bologi. Nilai ekonomi suatu vegetasi dapat dilihat dari potensi vegetasi-vegetasi tersebut untuk mendatangkan devisa seperti vegetasi seperti vegetasi yang berupa pohon yang diambil kayunya atau vegetasi padang rumput yang dapat dijadikan padang penggembangan ternak dan lain-lain. Sedangkan dalam istilah biologi suatu vegetasi dapat dilihat peranan vegetasi tersebut., seperti vegetasi hutan yang dapat dijadiakan sumber pakan , relung, ekologi ( tempat istirahat, bercengkrama, bermijah beberapa jenis hewan ), pengatur iklim, pengatur tata aliran air dan indicator untuk beberapa unsur tanah dan lain-lain.
Dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan menggunakan metode kuadran. Metode kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh  (plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tihang, contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka disebut pohon, dan jika diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta ( pancang ) dan mulai anakan sampai pohaon setinggi 2,5 meter disebut seedling ( anakan/semai ).
Metode kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini mudah dan lebih cepat digunanakan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.  Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya. Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membent Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem.
Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan. Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan  kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Webb, 1954).
Di Indonesia Perkembangan penelitian Vegetasi sampai tahun 1980 telah dilaporkan oleh Kartawinata (1990), yang mengevaluasi pustaka yang ada mengenai Vegetasi dan ekologi tumbuhan di Indonesia, menunjukkan bahwa bidang ini belum banyak diteliti. Banyak dari informasi tentang ekologi tumbuhan dalam berbagai pustaka seperti serie buku Ekologi Indonesia (misalnya MacKinnon dkk., 1996 dan Whitten dkk.,1984) berdasarkan berbagai penelitian di Malaysia. Berbagai penelitian sebagian besar terfokus pada ekosistem hutan, terutama hutan pamah dipterokarp (lowland dipterocarp). Sebagian besar informasi untuk kawasan fitogeografi Malesia (Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea dan Timor Leste) telah disintesis oleh Whitmore (1984) dalam bukunya Tropical Rain Forests of the Far East. Data vegetasi biogeografi dan ekologi tentang Papua New Guinea (misalnya Paijmans, 1976; Gressitt, 1982; Johns, 1985, 1987a,b; Brouns, 1987; Grubb dan Stevens 1985) dapat diterapkan untuk Papua
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem.
Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan.
Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan  kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri.
Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah.

B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mempelajari cara analisis vegetasi dengan metode kuadran.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Frekuensi adalah nilai besaran yang menyatakan derajat penyebaran jenis didalam komunitasnya. Angka ini diperoleh dengan melihat perbandingan jumlah dari petak-petak yang diduduki suatu jenis terhadap keseluruhan petak yang diambil sebagai petak contoh di dalam melakukan analisis vegetasi. Frekuensi dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti luas petak contoh, penyebaran tumbuhan dan ukuran jenis tumbuhan.
Dominansi adalah besaran yang digunakan untuk menyatakan derajat penguasaan ruang atau tempat tumbuh , berapa luas areal yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan atau kemampuan suatu jenis tumbuhan untuk bersaing tehadap jenis lainnya. Dalam pengukuran dominansi dapat digunakan proses kelindungan ( penutup tajuk ), luas basah area , biomassa, atau volume.
Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan  vegetasi, iklim dan tanah berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Anonim. 2009).
Dalam penghitungan penutupan tajuk ini, barisannya dilakukan dengan cara mengukur luasan tajuk untuk tiap jenis yang terdapat dalam petak contoh, kemudian dicari domonansi relatifnya. Selanjutnya proses penutupan tajuk dapat diukur proyeksi tajuk tanah. biomassa adalah ukuran untuk menyatakan berat suatu tumbuhan. Sedangkan volume dapat dihitung dari rata-rata luas basal area x tinggi tumbuhan bebas cabang x factor koeksi pohon.
Metode kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh  (plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tihang, contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka disebut pohon, dan jika diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta ( pancang ) dan mulai anakan sampai pohaon setinggi 2,5 meter disebut seedling ( anakan/semai ).
Metode kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini mudah dan lebih cepat digunanakan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.  Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya. Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas.
Kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis vegetasi yang menggunakan petak contoh. Kurva spesies area digunakan memperoleh luasan minimum petak contoh yang dianggap dapat mewakili suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luasan petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin beragam jenis yang terdapat pada areal tersebut makin luas kurva spesies areanya.
Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak. Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Dombois dan E1lenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu.
Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan.
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Cara ini terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas).Titik pusat kuadran adalah titik yang membatasi garis transek setiap jarak 10 m (Polunin, 1990).
Profil arsitektur ini dijadikan dasar untuk memperoleh gembara komposisi, struktur vertical dan horizontal suatu vegetasi, sehingga memberikan informasi mengenai dinamika pohon dan kondisi ekologinya. Dari profil asiktektur ini juga dapat diketahui interaksi antara masing-masing individu pohon dan peranan di dalam ekosistem sustu komunitas vegetasi. Halle et.al (1987) mengolongkan pohon-pohon yang terdapat didalam suatu komonitas hutan alam tropika berdasarkan kepada kenampakan arsitektur, ukuran pohon dan keadaan biologi pohon, menjadi 3 golongan pohon yaitu :
a.         Pohon pada masa datang ( les arbres du future, trees of future ), yaitu pohon-pohon yang mempunyai kemampuan untuk berkembang lebih lanjut atau pada massa datang. Pohon tersebut pada masa ini merupakan pohon yang dominan dan , diharapkan pada masa datang kan mengantikan pohon-pohon yang pada saat ini dominan.
b.        Pohon masa kini ( les arbres du persent, trees of persent ), pohon-pohon yang sedang berkembang penuh dan merupakan pohon yang dominan yang paling menentukan profil arsitektur komnitas saat ini.
c.         Pohon pada masa ( les arbres du past , trees of past ) yaitu pohon-pohon yans sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan selanjutnya akan mati. Biasanya pohon- pohon ini merupakan pohon tua yang tidak produktif.
Berdasarkan ukuran pohon maka pengolongan pohon-pohon tersebut adalah :
a.         Pohon masa mendatang : Ht Hn ; Ht lebih kecil dari tinngi pohon normal maksimum, Ht 100 Dbh’ dan HI ½ Ht.
b.        Pohon pada masa kini : Ht Hn ; Ht mendekati sama dengan tinggi pohon normal, Ht 100 Dbh’ dan HI ½ ht.
c.         Pohon pada masa lampau : Ht Hn ; Ht sudah tidak dapat meningkat lagi, Ht 100 Dbh’ dan HI ½ Ht. Pada golongan ini pohon  sudah mengalami kerusakan, tidak produktif, dan tua.
Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990).
Metode kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.  Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya. Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membent Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem (Andrie, 2011).
Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan. Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan  kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Naughhton.1973).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).
Sistem Analisis dengan metode kuadrat:
Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area tersebut. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Dalam praktikum ini, khusus untuk variabel kerapatan dan kerimbunan, cara perhitungan yang dipakai dalam metode kuadrat adalah berdasarkan kelas kerapatan dan kelas kerimbunan yang ditulis oleh Braun Blanquet (1964). Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Indriyanto,2006,)

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum tentang Metode Kuadran ini dilaksanakan di lahan Arborectum percobaan Universitas Sriwijaya, Inderalaya.
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 16 April 2013 pada pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.        Tali Rapiah
2.        Meteran
3.        Patok kayu
4.        Pena dan kertas

C. Cara Kerja
1. Langka awal dari pengerjaan metode ini adalah dengan berpedoman pada vegetasi dan areal yang akan dianalisis, kita menentukan pengamatan di lapang dengan transek yaitu garis lurus memotong areal yang akan diamati
2. Langkah selanjutnya tentukan suatu titik (misal titik A) terletak pada transek tersebut. Pada titik A tersebut dibuat garis lurus yang tegak lurus terhadap transek
3. Selanjutnya untuk arah pergerakan (kompas) disesuaikan dengan arah transek, hasil dari perpotongan garis dengan transek tersebut didapatkan empat kuadran yaitu kuadran 1,2,3 dan 4
4. Pada setiap kuadran dilakukan pengukuran jarak diameter pohon dan tihang dengan titik pengamatan  (titik A) dan diameter pohon pada setinggi dada atau sama dengan 20 cm disebut pohon, dan jika diameter tersebut diantara 10-20 cm maka disebut pole (tihang) dan jika tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta (pancang) dan mulai anakan sampai pohon setinggi 2,5 m disebut seedling (anakan/semai)
5. Penentuan jarak antara titik-titik pengamatan selanjutnya dinilai dari awal pengamatan (A) dengan mengukur jarak ke B, sejauh lebih besar dua kali jarak rata-rata antar pohon yang ada di daerah vegetasi yang akan dianalisa.










IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Setelah melakukan praktikum di lahan aboretum didapatlah hasil sebagai berikut :
Tabel hasil pengamatan analisis vegetasi dengan metode kuadran
Titik A
Kuadran Jumlah
  Pohon Tihang Semak Anakan
I 2 3 4 7
II 3 4 6 11
III 1 1 2 -
IV 1 2 8 15

Titik B
Kuadran Jumlah
Pohon Tihang Semak Anakan
I - 3 4 7
II - 2 6 11
III - 1 2 -
IV 1 2 8 15

B. Pembahasan
Metode kuadran ini merupakan metode plot less method, yang berarti Metode ini merupakan salah satu metode yang tidak memerlukan luas tempat pengambilan contoh atau suatu luas kuadrat tertentu. Oleh karena itu, bila dalam suatu kuadran dalam jarak yang dekat tidak terlihat adanya suatu vegetasi pohon, maka pencarian bisa diteruskan sejauh mungkin sampai ditemukan jenis pohon yang  dimaksud, tetapi pohon tersebut masih berada di dalam daerah kuadran tersebut. Cara ini  terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas). Titik pusat kuadran adalah titik yang membatasi garis transek setiap jarak 50 m. Dari keduaplot tersebut dapat diketahui ada spesies dominan seperti kayu seru karena jenis spesies tersebut terdapat hampir di setiap plot.
Kegiatan yang dilakukan pada praktikum ini adalah mengamati jumlah tanaman yang masuk ke dalam kuadran yang telah ditentukan, apakah masuk ke dalam kuadran I, II, III atau IV. Sebelum mengamati jenis dan jumlah tanaman yang ada, terlebih dahulu dilakukan penentuan titik pusat A dengan patokan garis transek. Garis transek disini menggunakan tali rafiah, panjang garis transek pada praktikum ini adalah 50 m. Setelah titik pusat ditentukan barulah menentukan patokan untuk tiap-tiap kuadran yaitu pohon. Setelah titik pusat A selesai ditentukan titik pusat B yaitu 50 m sama seperti garis transek titik A. Untuk titik pusat B sama seperti titik pusat A, ditentukan jenis dan jumlah tanaman berdasrkan kuadran yang telah ditentukan.
Metode ini menggunakan titik kuarter untuk menghitung jarak dari pengamat ke pohon. Metode ini biasa digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya. Tiap kelompok mendapat tansek sepanjang 50 m. Transek tersebut dibagi menjadi 2 buah kuarter dengan tiap plot berjarak 50 m. Di tiap titik pusat plot tersebut dibuat garis khayal sehingga membagi plot menjadi 3 kuarter, pada masing-masing kurter terdapat 4 kuadran. Dalam satu kuadran hanya didaftarkan satu jenis dari vegetasi pohon (termasuk didalamnya kategori semai, pancang, tiang dan pohon), yang jaraknya paling dekat dengan titik pusat kuadran. Arboretum bukan merupakan ekosistem alami, melainkan ekosistem semi atau buatan sehingga ada campur tangan manusia yang menyebabkan tumbuhan dalam arboretum tersebut beragam (heterogen). Walaupun pada awalnya penanaman pohon di arboretum dilakukan secara merata menurut komunitas yang akan diciptakan. Ternyata bila dianalisis secara vertical, strata atau penyebaran kanopi tidak merata kerapatannya. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kompetisi antar species tumbuhan di arboretum (selain oleh kerusakan manusia) dalam memperoleh sinar matahari, air dan nutrisi-nutrisi yang ada dalam tanah. Bentuk kehidupan dari spesies tumbuhan biasanya memiliki karakteristik yang tetap. Namun spesies yang sama dapat menerima bentuk kehidupan yang berbeda ketika tumbuh dibawah kondisi lingkungan yang berbeda. Vegetasi dapat diklasifikasikan kedalam struktur tanpa menunjuk pada nama spesies. Ini telah dibuktikan terutama dalam floristik lokasi yang belum dijamah, dan dalam lokasi dimana vegetasi tidak dapat diklasifikasikan dengan mudah dengan spesies yang dominan. Ketinggian tumbuhan digunakan sebagai kriteria dalam klasifikasi bentuk kehidupan. Walaupun, berbagai bentuk kehidupan dapat memberikan pemikiran khusus dari stratifikasi atau pelapisan dalam komunitas.
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur. Selain itu dalam suatu ekologi hutan satuan yang akan diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Soerianegara, 1988).
Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadrat (Indrianto 2006). Penelitian ini menggunakan metode kuadrat, yaitu bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A.      Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.        Metode kuadran adalah suatu bentuk metode untuk analisa vegetasi dengan menggunakan plot dimana setelah luas minimum area dari satuan petak contoh dianggap mewakili suatu komunitas yang kemudian ukuran luas diukur dengan satuan kuadrat
2.        Frekuensi  digunakan untuk menyatakan proporsi antara jumlah sampel yang berisi suatu spesies tertentu terhadap jumlah total sampel
3.        Luas  penutupan digunakan  untuk proporsi antara  luas tempat  yang ditutupi oleh spesies tumbuhan dengan luas total habitat
4.        Indeks nilai penting digunakan sebagai  parameter kuantitatif yang dapat dipakai  untuk menyatakan  tingkat  dominansi   spesies  dalam  suatu komunitas tumbuhan
5.        Analisa vegetasi dilakukan untuk mengetahui variasi yang ada pada suatu ekositem/area

B.       Saran
Sebaiknya para praktikan melakukan praktikum ini dengan teliti agar hasil yang diperoleh objektif. Selain itu, praktikan harus melakukan semua praktikum sesuai dengan prosedur yang ada, sehingga tidak terjadi kesalahan saat praktikum sehingga dapat didapatkan hasil yang memuaskan.





VI. DAFTAR PUSTAKA
Indriyanto,2006,Ekologi Hutan,jakarta,Bumi Aksara.
Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
Naughhton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press : Yogyakarta
Rahardjanto, Abdulkadir.  2001.  Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Soerianegara, I  dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor,  Bogor.
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.














LAMPIRAN

Rabu, 26 November 2014

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGELOLAAN LAHAN RAWA LEBAK DAN RAWA PASANG SURUT

“Pengelolaan Tanaman Budidaya Dilahan Rawa Pasang Surut"









KHAYATU KHOIRI
05121407020
















PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA
2014
LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM LAHAN RAWA LEBAK DAN PASANG SURUT
 



NAMA           : Khayatu Khoiri                   Hari/tanggal   : 23 November 2014
NIM                : 05121407020                                   ASISTEN :
KELAS          : Agroekoteknologi Palembang             1. Ulfira Yuniarti
JUDUL          : Pengelolaan Tanaman Budidaya          2. Amalia Rochima Putri
                          Dilahan Rawa Pasang Surut                  3. Jansen T. Lingga
                                                                                 4. Torang G. Tampubolon
                                                                                 5. Dany Setiawan
                                                                                 6. Elvran



                                                                                                                                                 I.          PENDAHULUAN
A.  Ekosistem Rawa
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organism juga mempengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup(Wikipedia). Begitu juga menurut Undang–Undang Lingkungan Hidup (UULH) 1982, yang mengatakan bahwa ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.  Suatu ekosistem pada dasarnya merupakan suatu sistem ekologi tempat berlangsungnya sistem pemrosesan energi dan perputaran materi oleh komponen-komponen ekosistem dalam waktu tertentu (elfis,2010).
Suatu ekosistem di katakan dalam keaadan seimbang apabila komposisi di antara komponen - komponen tersebut dalam keadaan seimbang. Ekosistem yang seimbang,keberadaannya dapat bertahan lama atau kesinambungannya dapat terpelihara. Perubahan ekosistem dapat mempengaruhi keseimbangannya. Perubahan ekosistem dapat terjadi secara alami serta dapat pula karena aktivitas dan tindakan manusia. (Wikipedia, 2009)


B.  Pengelolaan Rawa Pasang Surut
·      Pengelolaan Air
Sistem pengelolaan air yang sesuai di lahan pasang surut adalah sistem satu arah pada lahan-lahan tipe A dan B, dan sistem konservasi pada lahan tipe C dan D. Secara specifik pengelolaan air di lahan pasang surut bertujuan untuk : (1) Memenuhi kebutuhan air pada penyiapan lahan, (2) Memenuhi kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman, (3) Memberikan suasana kelembaban yang ideal bagi pertumbuhan tanaman dengan mengatur tinggi muka air tanah, (4) Memperbaiki sifat fisiko-kimia tanah dengan cara mencuci zat-zat yang bersifat meracun bagi tanaman, (5) Mengurangi semaksimal mungkin terjadinya oksidasi pirit pada tanah sulfat; (6) Mencegah terjadinya proses kering tak balik pada gambut, (7) Mencegah terjadinya penurunan permukaan tanah (subsidence) terlalu cepat; dan (8) Mencegah masuknya air asin ke petakan lahan.(Hernanto,2010)
Penerapan sistem tata air satu arah pada lahan tipe luapan A dan B dapat dilakukan dengan menggunakan pintu air otomatis pada tingkat saluran sekunder/ tersier yang berfungsi untuk memisahkan fungsi saluran antara sekunder/tersier untuk saluran irigasi dan untuk saluran drainase. Air masuk pada saat pasang masuk melalui saluran irigasi dengan mendorong pintu air otomatis, sementara pintu pada saluran sekunder/tersier drainase akan tertutup. Sebaliknya pada saat air surut, pintu air pada saluran sekunder/tersier irigasi akan tertutup akibat dorongan air balik, sementara pada saluran sekunder/tersier drainase arus air balik akan mendorong pintu air menjadi terbuka sehingga air bebas keluar. Dengan demikian sirkulasi air pada tingkat lahan pertanaman dan pencucian dapat berlangsung dengan baik. (Nappu, B., dkk. 2003).
·      Penataan Lahan
Guna mengoptimalkan pengembangan lahan rawa pasng surut untuk usaha pertanian yang sekaligus meningkatkan diversifikasi hasil pertanian dan pendapatan, maka perlu dilakukan penataan lahan.? Adapun tujuan penataan lahan adalah untuk : (1) mengurangi resiko kegagalan total dalam usaha tani; (2) meningkatkan keragaman usaha tani melalui difersifikasi tanaman; (3) meningkatkan pendapatan usaha tani melalui difersifikasi tanaman; (4) mempertahankan kesuburan tanah. Penataan lahan di lahan rawa pasang surut dapat dilakukan berdasarkan kepentingan dan keadaan tipologi lahan.
Dikenal ada 4 model penataan lahan, yaitu (1) sistem sawah; (2) Sawah  Surjan; (3) Sawah  Tukungan; dan (4) tegalan/kebun. Jenis penataan lahan yang akan diterapkan harus disesuaikan dengan tipe luapan dan tipologi lahan. Penataan lahan dengan sistem sawah dianjurkan untuk lahan-lahan yang termasuk dalam tipe luapan A atau dekat dengan muara sungai dimana luapan pasang baik pasang besar (pasang tunggal) maupun pasang kecil (pasang ganda) terasa hingga lahan pertanaman atau pada lahan dengan kedalaman pirit dngkal (< 50 cm).
Penataan lahan dengan sistem Sawah Surjan dianjurkan pada lahan baik tipe luapan A, B, dan C dengan catatan memiliki kedalaman pirit > 60 cm. Surjan dibuat dengan cara meninggikan sebagian lahan dengan menggali atau mengeruk tanah di sekitarnya. Bagian lahan yang ditinggikan disebut tembokan (raise beds), sedang wilayah yang digali atau di bawah disebut tabukan (sunkens beds). Lebar tembokan dibuat sekitar 2-3 m dan tinggi 0,50-0,75 m, sedangkan tabukan dibuat dengan lebar 8-15 m. Pada sisi kiri dan kanan surjan sebaiknya dibuat saluran dengan lebar 0,5 m dan kedalaman 0,5 m yang akan berfungsi menjaga kelembaban surjan atau tempat pengambilan air untuk menyiram tanaman disurjan pada saat diperlukan. Setiap hektar lahan dapat dibuat sekitar 6-10 tembokan (sekitar 0,06 - 0,12 % total lahan) dan 5-9 tabukan.
·      Pemilihan Komoditas adaptif dan prospektif
Dengan penerapan sistem tata air dan penataaan lahan yang sesuai, lahan rawa pasang surut tidak hanya dapat diperuntukan untuk tanaman padi, namun berbagai komoditas dapat dikembangkan. Penganekaragam komoditas dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi resiko kegagalan usahatani. Namun demikian sebelum memilih/ menetapkan komoditas yang akan diusahakan, setidaknya ada empat pertimbangan yang perlu diperhatikan agar komoditas yang diusahakan dapat berproduksi secara optimal dan memiliki nialai jual yang cukup tinggi. Adapun ke empat pertimbangan dimaksud adalah (1) agroteknis, (2) ekonomis, (3) sosial, dan (4) pemasaran.
·      Penerapan Teknologi Budidaya Yang Sesuai
Penyiapan lahan adalah kegiatan penebasan dan atau pembersihan rerumputan serta pengolahan tanah, yang ditujukan agar lahan menjadi rata dan lebih seragam serta memberikan media tumbuh yang baik bagi perakaran tanaman. Gulma, hama dan penyakit merupakan masalah dalam pengembangan usahatani tanaman di lahan rawa pasang surut. Gulma atau rerumputan di lahan rawa pasang surut tumbuh subur dan berkembang cepat. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan penyiangan (manual) atau dengan aplikasi herbisida efektif, maupun kombinasi keduanya. Hama utama tanaman khususnya padi adalah tikus dan penggerek batang padi putih serta ulat daun dan buah untuk sayuran. Serangan hama tikus umumnya terjadi pada saat tanaman memasuki fase bunting, sehingga upaya pengendalian dini sangat bermanfaat dalam menurunkan populasi tikus. Pada dasarnya pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu menggunakan teknologi PHT melalui penggunaan varietas tahan, musuh alami, penerapan teknik budidaya yang baik dan sanitasi lingkungan sedangkan penggunaan pestisida kimiawi dilakukan sebagai tindakan terakhir. Untuk menunjang keberhasilan pengendalian hama dan penyakit ini sangat diperlukan partisipasi aktif petani dan dukungan aparat pemerintah serta sarana dan prasarana penunjang yang memadai.



                                                                                                                                    II.          TINJAUAN PUSTAKA
A.  Kondisi Umum
Kawasan KTM Telang dilalui dan dikelilingi oleh sungai-sungai besar, antara lain Sungai Musi, Sungai Banyuasin, Sungai Telang, Sungai Sebalik, dan Sungai Gasing. Selain sungai-sungai tersebut, di Kawasan KTM Telang juga terdapat banyak saluran yang sengaja dibuat untuk kepentingan drainase lahan pertanian pasang surut. Pada umumnya jaringan tata air (sistem drainase) yang terdapat di Kawasan KTM Telang adalah sistem grid ganda (double-grid system) yang dirancang oleh LAPIITB pada tahun 1976. Sistem ini didasarkan pada sistem drainase saluran terbuka (open system) dengan menggunakan saluran primer sebagai saluran navigasi yang berhubungan langsung ke sungai utama. Jarak antara saluran primer yaitu 8.000 m. Tegak lurus dengan saluran primer terdapat saluran sekunder yang berhubungan langsung dengan saluran primer, jarak antara saluran sekunder adalah 1.150 m.  Saluran sekunder pemberi yang melintasi perkampungan dinamakan Saluran Perdesaan (SPD) dan saluran pembuangan dinamakan Saluran Drainase Utama (SDU) yang berada di batas lahan usaha II. Saluran tersier dibangun untuk mengalirkan atau membuang air dari dan ke saluran sekunder.  Sistem tata air di Kawasan KTM Telang dirancang berdasarkan konsep aliran satu arah (one way flow system) dimana air pasang masuk melalui saluran primer dan terus ke saluran sekunder pemberi (SPD) dan masuk ke saluran tersier pemberi yang akhirnya mengaliri lahan usaha tani.
1.    Sarana Prasarana
Sarana yang digunakan di daerah pasang surut ini menggunakan fasilitas pribadi namun ada juga bantuan dari pihak pemerintah dari segi pemupukan itu kebanyakan petani menggunakan pupuk subsidi diantaranya Urea subsidi, KCL subsidi dan sebagainya dan dari alat pengangkut hasil panen itu menggunakan truk.
Kondisi jalan yang ada jauh dari pusat kota kira kira 70 KM dari pusat kota sehingga perlu adanya sarana jalan yang bagus untuk mempermuda kinerja petani, sedangkan pada kebun kelapa yang ada sarana yang digunakan yaitu berupa saluran air yang mana saluran air ini difungsikan untuk membawa buah kelapa sampai dipenampungan dengan aliran air yang mengalir yang disebabkan oleh pasang surutnya air laut, saliuran ini dibuat oleh masyarakat sekitar dengan bergotongroyong mayoritas masyarakat didaerah tersebut ialah orang Bugis yang merupakantransmigrasi dari Sulawesi. Dan dari perkebunan kelapa sawit, kebanyakan milik prusahaan Swasta sehingga penggelolaanyapun bagus dan teratu karena pemiliknya memiliki banyak modal untuk mengembangkannya berbeda dengan petani padi mereka hanya menanam kelapa sawit hanya seadanya disekitar sawah mereka, namun ada pulayang mengganti lahan mereka dengan tanaman kelapa sawit.
2.    Saluran Air
Prinsip penting yang harus diterapkan jika akan berhasil bertani di lahan rawa adalah pengelolaan air atau sering disebut tata air  bukan hanya dimaksudkan untuk menghindari terjadinya banjir atau genangan yang berlebihan di musim hujan. Juga harus dimaksudkan untuk menghindari kekeringan di musim kemarau.Selain itu, juga untuk menghindari bahaya kekeringan lahan sulfat masam dan lahan gambut.  Ada tiga jenis tata air untuk lahan rawa yaitu tata air makro, tata air mikro, dan tata air dalam lahan pertanaman. Seluruhnya terkait satu sama lainnya dan dilakukan pengelolaan dalam suatu kawasan yang luas.
Oleh karena kawasannya yang luas, maka pembangunan dan pemeliharaannya harus dilaksanakan secara kolektif.
·      Tata air makro
Lahan rawa memerlukan tata air makro dengan membuat saluran drainase dan irigasi yang terdiri atas saluran primer, sekunder, dan tersier.
Saluran drainase dibuat guna menampung dan menyalurkan air yang berlebihan dalam suatu kawasan ke luar lokasi. Sebaliknya saluran irigasi dibuat untuk menyalurkan air dari luar lokasi ke suatu kawasan untuk menjaga kelembaban tanah atau mencuci senyawa-senyawa beracun.
Oleh sebab itu, pembuatan saluran drainase harus dibarengi dengan pembuatan saluran irigasi.
Selain itu, perlu dibangun tanggul penangkis banjir di sepanjang saluran karena drainase saja sering tidak mampu mengatasi luapan air musim hujan. 
Kemudian diperlukan waduk retarder atau chek dam yaitu waduk yang dibuat di lahan rawa lebak atau lebak peralihan. Fungsi waduk ini untuk menampung air di musim hujan, mengendalikan banjir, dan menyimpannya untuk disalurkan di musim kemarau.(Teguh nasa 2012).
Selain itu, juga diperlukan  saluran intersepsi yang berfungsi untuk menampung aliran permukaan dari lahan kering di atas lahan rawa. Letaknya pada perbatasan antara lahan kering dan lahan rawa. Saluran ini sering dibuat cukup panjang dan lebar sehingga menyerupai waduk panjang. Apabila ada kelebihan air akan disalurkan melalui bagian hilir ke sungai sebagai air irigasi.
·      Tata air mikro
Tata air mikro ialah pengelolaan air pada skala petani. Dalam hal ini, pengelolaan air dimulai dari pengelolaan saluran tersier serta pembangunan dan pengaturan saluran kuarter dan saluran lain yang lebih kecil.
Saluran tersier umumnya dibangun oleh pemerintah tetapi pengelolaannya diserahkan kepada petani.
Pengelolaan air di tingkat petani bertujuan untuk mengatur agar setiap petani memperoleh air irigasi dan membuang air drainase secara adil. Untuk itu diperlukan organisasi di tingkat desa. Kemudian, pengelolaan di tingkat petani juga menciptakan kelembaban tanah di lahan seoptimal mungkin bagi pertumbuhan tanaman serta mencegah kekeringan lahan sulfat asam dan lahan gambut.
·      Tata air dalam lahan pertanaman
Kuarter merupakan saluran di luar pertanaman yang paling kecil. Di dalam lahan, dibuat saluran drainase intensif yang terdiri dari saluran kolektor dan saluran cacing. Pengaturan lahan dapat ditata dengan sistem caren dan surjan. Pada sistem ini saluran drainase intensif dibuat setelah selesai pembuatan Sedangkan, pada lahan yang ditata dengan sistem sawah dan tegalan, pembuatan saluran setelah pengolahan tanah.
Saluran kolektor dibuat mengelilingi lahan. Untuk saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran irigasi diberi pintu pada bagian hulu. Sedangkan saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran drainase diberi pintu pada bagian hilir. 
Pintu cukup dibuat dengan cara menggali tanggul dan dapat ditutup sewaktu-waktu dengan cara menimbun kembali. Sedangkan posisi saluran cacing sebaiknya dibuat tegak lurus dengan saluran kolektor. Air merupakan unsur penting bagi tanaman. Di samping berfungsi langsung dalam proses pertumbuhan, air juga berfungsi dalam mengendalikan gulma, mencuci senyawa-senyawa beracun, dan menyuplai unsur hara.

B.  Aspek Budidaya
·      Tanaman Padi
Masyarakat didaerah pasang surut kebanyakan menanam tanam padi dengan sistem tabela atau tebar langsung memang memberikan beberapa keunggulan atau kelebihan dari cara tanam konvensional karena lebih efisien, namun disisi lain ternyata kurang cocok bila dilakukan saat musim penghujan. Bahkan disinyalir turut menumbuhkan biji gulma untuk tumbuh lebih awal sehingga mendorong gulma tumbuh cepat. Maka pemilihan herbisida yang selektif dan efektif mutlak dibutuhkan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma tersebut. Setelah penanaman maka dilakukan pemupukan dan trakhir tingal lah proses perawaan serta penangulangan hama.
·      Tanaman kelapa
Pembibitan
Untuk pembibitan sendiri, pekebun sebaiknya memilih bibit kelapa hibrida jenis unggul agar produksi buah lebih cepat dan optimal. Persiapan benih dilakukan secara bertahap selama 5-12 bulan sebelum masa tanam yang ditentukan. Bibit yang siap dipindahkan ke lahan tanam adalah bibit yang sudah berusia 5-8 bulan.
Pembuatan Lubang Tanam
Ajir dipasang sepanjang pematang sebagai penanda untuk pembuatan lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang sudah ditentukan. Dalam teknik budidaya kelapa hibrida, jarak tanam yang ideal adalah 5 x 6 meter atau 4 x 7 meter. Lubang tanam digali satu bulan sebelum penanaman bibit dengan ukuran 40 x 40 x 50 cm. Ukuran lubang tanam ini bisa disesuaikan dengan berat tanah.
Penyesuaian Lubang Tanah
Tanah yang lebih berat membutuhkan lubang tanam yang lebih besar sebaliknya tanah yang lebih ringan membtutuhkan ukuran lubang tanam yang lebih kecil. Sebelum bibit bisa ditanam, 2-4 minggu sebelumnya lubang tanam tersebut perlu ditimbun dengan campuran tanah dan 20 kg pupuk organik maupun pupuk lain sesuai kebutuhan. Barulah bibit bisa ditanam di lubang tanam tersebut dengan cara tanam sedalam 10 cm dari permukaan tanah.
Pemeliharaan Tanaman
Gulma merupakan gangguan besar bagi tanaman kelapa hibrida sehingga dalam teknik menanam kelapa hibrida yang baik, pengendalian gulma perlu dilakukan untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman. Gulma perlu dikendalikan setiap dua bulan dengan radius satu meter untuk tanaman kelapa yang masih muda dan radius dua meter untuk tanaman kelapa dewasa.
Pemupukan
Dalam setiap detail cara menanam kelapa hibrida, ada beberapa pemupukan yang diperlukan, tetapi pemupukan ini hanya dilakukan selama dua kali dalam satu tahun. Pemupukan dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan dengan jumlah pemberian masing-masing pohonnya 100-400 gram pupuk TSP, 500-700 gram pupuk urea, dan 600 gram – 1 kg KCL. Ada tips yang tidak boleh dilupakan yakni pemberian pupuk secara melingkar dengan radius satu meter dari tanaman kelapa yang masih muda dan radius dua meter untuk tanaman dewasa sedalam 15 sentimeter.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pekebun juga perlu awas terhadap serangan beberapa hama pengganggu seperti cendawan Phytophthora yang menyebabkan penyakit busuk tanaman dan bisa dikendalikan dengan fungisida Alliete yang diinjeksikan lewat akar. Selain itu, ada pula hama kumbang penggerek pucuk yang bisa dikendalikan secara alami dengan cendawan Baculvirus dan Metharizium.
·      Tanaman kelapa sawit
Syarat Tumbuh Kelapa Sawit
1. Iklim
§  Lama penyinaran matahari berkisar 5-7 jam/hari.
§  Curah hujan tahunan rata-rata 1.500-4.000 mm.
§  Temperatur optimal pada 24-280 C.
§  Ketinggian tempat yang ideal diantara 1-500 mdpl.
§  Kecepatan angin rata-rata 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
2. Media Tanam
§  Tanah yang baik yang mengandung banyak lempung, mempunyai aerasi yang baik dan juga subur.
§  Memiliki sistem drainase yang baik, permukaan air tanahnya cukup dalam, solum juga cukup dalam (80 cm), pH 4-6, dan tanahnya pun tidak berbatu.
§  Tanah Latosol, Aluvial dan Ultisol, tanah gambut, dataran pantai dan muara sungai juga dapat dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit

Teknik Penanaman Kelapa Sawit
·                     Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.
·                     Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50×40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.
·      Cara Penanaman
Menurut Teguh Nasa  2012. Pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPERNASA. Adapun cara penggunaan SUPERNASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.
·      Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit
·      Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.
·       Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.
·      Pemupukan
Dilakukan dengan analisis daun dan tanah terlebih dahulu, baru bisa menentikan dosisnya.
C.  Faktor Yang Mempengaruhi Budidaya
Faktor yang mempengaruhi dalam budidaya dilahan pasang surut ialah
·      Kondisi Lahan
Kondisi dan karakteristik fisik lahan  rawa merupakan lahan yang tidak normal karena banyak faktor pembatas, diantaranya:
·      Gambut
Umumnya kondisi gambut tebal hingga kedalaman 3 – 5 m dimana nilai keasaman sangat tinggi (pH<4) sehingga unsur hara yang merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman sangat minim atau terbatas.
·      Kondisi Pirit
Umumnya kondisi pirit adalah dangkal sehingga jika teroksidasi dengan udara akan menjadi racun bagi tanaman.
·      Salinitas/ Intrusi Air Laut
Perilaku pasang surut air laut berdampak pada masuknya air asin di lahan, terutama di daerah pesisir atau berdekatan dengan laut/selat.
·      Hidrotopografi Lahan
Kondisi topografi umumnya adalah datar sehingga pada musim kemarau, air sungai turun dan tanaman banyak yang mati. Pada musim hujan jika terjadi banjir, air sungai naik menggenangi lahan.
Menurut Soekartawi (2002), istilah faktor produksi sering pula disebut dengan korbanan produksi, karena faktor produksi tersebut dikorbankan untuk menghasilkan produksi. Faktor produksi tersebut berupa lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen.
Biaya produksi adalah sebagai kompensasi yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi, atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak tunai. Biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya sewa atau bunga tanah yang berupa uang. Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya berhubungan dengan besarnya produksi, misalnya pengeluaran-pengeluaran untuk bibit, pupuk, dan sebagainya (Daniel, 2002).










                                                                                                                    III.          METODOLOGI PRAKTIKUM
A.  Tempat dan Waktu
Pelaksanaan praktikum Pengelolaan Tanaman Budidaya Dilahan Rawa Pasang Surut ini dilaksanakan di desa suka tani dan desa karang anyar kecamatan Tanjung lago kabupaten Banyuasin.
Dilaksanakan pada hari minggu tanggal 23 november 2014 dari jam 08 : 00 sampai dengan selesai.

B.  Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum pengelolaan tanaman budidaya dilahan rawa pasang surut ialah 1. SPAD, 2. Ph meter, 3. GPS, dan 4. Oxsigen.
Bahan yang digunakan adalah 1. Sample tanah, 2. Daun tanaman 3. Sample air.

C.  Survai Primer dan Skunder
Analisis Usaha Tani
a.    Kegiatan tanya jawab dengan petani yang ada di Desa Telang Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin, tentang sistem pertanian di daerah tersebut.
b.    Catat hal yang penting dan sesuaikan dengan teori budidaya tanaman padi yang ada.
c.    Dokumentasikan kegiatan.







                                                                                                                       IV.          HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil
Data Hasil Analisis Usaha Tani
No
Jenis kuisioner
Hasil kuisioner
1.
Sistem pola tanam padi
Sistem TABELA dengan pagar taman kelapa sawit
2.
Pengelolaan lahan
Hand traktor
3.
Pupuk
Urea, KCl, Phonska
4.
Jenis pestisida
Insektisida
5.
Hasil produksi
6400 kg/ha
6.
Sifat tanah
Lempung liat berpasir pH 4,6 BO <10 %
7.
Varietas padi yang digunakan
TW
8.
Panen
120 hari
9.
Jumlah benih yang digunakan 1 ha
60 kg
10.
Kendala
Pengairan, hama, musim

Data Hasil  Tanaman Kelapa
No
Jenis pengamatan
Hasil pengamatn
1.
Sistem panen
Memanfaatkan  parit
2.
Jenis lahan
Gambut
3.
Kendala
Hama Oryctes

Data Hasil Perkebunan Kelapa Sawit Pasang Surut
No
Jenis pengamatan
Hasil pengamatn
1.
Lahan
Rawa pasang surut
2.
pH
4,6
3.
Pengelolaan
Terintegrasi
B.  Pembahasan
a.    Sawah
Padi yang ditanam oleh pak Ngatijan ini didaerah pasang surut tipe B yaitu didaerah Tanjung lago yang merupakan daerah transmigrasi masyarakat jawa, namun didaerah ini banyak juga para petani yang mengalih fungsikan lahan mereka menjadi lahan perkebunan sawit.  Berbeda halnya dengan pak Ngatijan, beliau masih memanfaatkan lahanya untuk menanam padi dan juga menanam kelapa sawit, dalam satu hektar pak Ngatijan menanam sawit sebanyak 40 pohon dengan system pagar dan didalamnya dapat dibudidayakan padi pada saat musim hujan tiba dan bisa juga dibudidayakan tanaman jaguang.
Lahan pak Ngatijan ini di apit oleh dua sungai yaitu sungai musi dan sungai Ngatijan kata pak Umar, sungai yang ada tersebut akan meluap tinggi pada sampi 3-4 bulan, sedangkan kondisi PH yang ada di daerah tersebut ialah 4,6 dengan demikian kondisi PH yang masam maka perlu perospek budidaya yang baik supaya didapatkan hasil yang memuaskan, jenis tanah yaitu lempung liat berpasir, dengan kondisi yang sedemikian rupa maka daerah tersebut cocok untuk dibudidayakan tanaman padi, dan kondisi kapasitas tukar kation nya yaitu rendah.
Pak Ngatijan berbudidaya tanaman padi dengan system Tabela, dalam satu hektar pak Ngatijan memerluhkan benih sebanyak 60 kilogram. Kelemahan dari berbudidaya dengan system Tabela ini iyalah Banyak memerlukan benih, sehingga pemakaian benih terlalu berlebihan, namun dari segi waktu menghemat waktu dalam penanaman. Dilahan tersebut penanaman kelapa sawit memiliki tiga macam pola penanaman yaitu pola sejajar yang bisa ditanam sebanyak 50 pohon dalam satu Ha, pola pagar yang ditanam sebanyak 40 pohon dalam satu Ha, dan dengan pola tengah yang pada saat ini masih dalam proses uji coba.
Pak Ngatijan menanam padi dengan varietas Tw (Winata) yang merupakan varietas local varietas ini tahan terhadap tanah masam sehingga cocok untuk dibudidayakan didaerah ini yang memiliki Ph tanah yaitu 4,6, varietas Tw ini juga tahan terhadap hama kepinding yang mana hama ini datang bersamaan dengan pasang nya air. Cirri tanaman yang terserang lembing batu yaitu padi berwarna kuning dan cara mengatasinya yaitu dengan insektisida sistemik, dan apabila hal ini tidak dikendalikan maka kemungkinan gagal panen sangatlah besar.
Dalam proses budidaya PakNgatijan mengaplikasikan pemupukan awal dengan 50 kg urea dan dicampur dengan KCl 25 kg per Ha nya dan disemprot dengan eli sebanyak 4 bungkus, pada pemupukan ke dua yaitu dengan pupuk posca sebanyak 100 kg. dan penyemprotan dengan menggunakan insektisida digunakan rogen, agadi decis dll untuk mengendalikan hama yang menyerang umur 40 hari merupakan pemupukan terakhir. Dan setelah itu tinggal peroses perawatan.
Pada  saat musim panen yaitu hasil yang didapatkan adalah 80 karung yang setiap karungnya berkapasitas 80 kg. dalam satu Hektarnya. Jadi setiap musim panen bisa mendapatkan sekitar 6 ton lebih gabah beras. Panen yang paling banyak didapatkan pak Ngatijan yaitu dengan menggunakan varietas IR 42 yang mana pada saat itu pak Ngatijan menanam sehabis penanaman jagung di lahanya, kemungkinan halite dapat terjadi karena masih adanya sisa pupuk yang banyak setelah tanam jagung sehingga berpengaruh pada penanaman selanjutnya. Hama yang sering menyerang lahan pak Ngatijan ialah tikus dan babi.

b.    Kebun Kelapa
Kelapa merupakan tanaman tanaman tahunah yang pertumbuhanya sangat bagus didaerah pasang surut, namun akhir –akhir ini tanaman kelapa banyak saingan dari komonditas tanman kelapa sawit sehingga banyak petani didaerah tanjung lago menganti tanaman mereka dengan kelapa sawit. Pada kunjungan yang kedua ini kami mengunjungi desa Karang Anyar kecamatan tanjung lago kabupaten Banyuasin Sumatra selatan di daerah ini perkebunan kelapa memiliki Luas lahan sekitar 2700 ribu hektar dengan sedemikian luasnya lahan yang ada maka masyarakat didaerahini membangun kanal kanal berukuran besar yang berfungsi untuk saluran irigasi selain itu juga digunakan untuk pengangkutan buah kelapa dari kebun menuju penampungan.
Dengan dibuatnya kanal kanal untuk mengangkut hasil panen maka hal ini sangat lah membantu, karena saluran air yang dibuat hanya satu maka penggunaanya pun secara bergantian dengan perjanjian antar masyarakat misalnya pada hari pertama yang memanen adalah orang A maka hari kedua nya adalah orang B demikian juga seterusnya tinggal member tahu dengan masyarakat sekitarnya. Buah yang terdapat dalam satu tanaman kelapa bisa mencapai 36 buah dalam satu tandan terdapat 7-8 buah, tinggi tanaman kelapa yang terdapat di desa Karang Anyar sudah mencapai tinggi kira- kira 15 m, jenis kelapanya yaitu kelapa dalam, kelapa dalam ini banyak dijadikan sebagai kopra yang di ambil minyak nya dan bisa juga untuk dimakan, kebanyakan kelapa di kirim kedaerah palembang dalam bentuk sudah di kupas dari serabutnya, namun apabila untuk di ekspor ke luar negi masih dalam keadaan buah segar / dalam keadaan utuh hal ini dilakaukan supaya kelapa tidak busuk saat dalam pengiriman.
Kebanyakan tanaman kelapa yang ada didesa Karang Anyar berbentuk bengkok atau condong hal ini karena perakaran tidak kuat untuk menahan beban  hal ini dapat mempengaruhi produktifitas dari tanaman kelapa itu sendiri, pemanenan kelapa dilakukan tiga bulan sekali.

c.    Kebun kelapa sawit
Tanaman kelapa merupakan tanaman tahunan yang tumbuh subur di berbagai tempat, tanaman kelapa sawit yang terdapat didaerh telang ini kebanyakan milik prusahaan swasta, dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit khususnya didaerah pasang surut harus lah memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, supaya penanaman berlangsung dengan bagus maka dibuat lah kanal atau sluran air yang berfungsi untuk menampung air supaya tidak mengenagi tanaman sawit.
Didaerah telang perkebunan kelapa sawit ini telah mengalami pencucian yang dicirikan dengan kondisi akenampakan air nyayang sudah jerih, kebanyakan perkebuanan yang ada milik swasta sehingga pembuatan atau pembukaan lahan sudah terencana sedemikian rupa sehingga pertumbuhan kelapa sangat bagus terutama pada saat musim kemarau tanamn yang ada tidak mengalami water divisit yang dicirikan dengan pelepah patah.
Tanaman kelapa sawit yang ada di perkebunan merupakan varietas dari Sriwijaya 3, yang dicirikan pelepah pendek dan daun pendek pula, dengan demikian maka keadaan perkebunan kelapa sawit ini sangatla bagus . kelemahan tanamn kelapa sawit yang ada didaerah pasang surut ialah adanya gulma, gulma susah dikendalikan karena kondisi lingkungan yang kebanyakan tergenang sehingga pado kondisi ini gulma sangat mudah tumbuh berbeda halnya dengan di perkebunan yang tidak terletak didaerah pasang surut yang pengendalian gulmanya mudah di atasi terutama dalam pemeliharaan piringan tanamn untuk pemupukan.




















                                                                                                                         V.          KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum tentang Pengelolaan Tanaman Budidaya Dilahan Rawa Pasang Surut adalah sebagai berikut :
1.    Penanaman padi di Desa Suka Tani, Kecamatan Tanjung Lago menggunakan sistem TABELA (Tanam Benih Langsung).
2.    Penanaman padi disawah diiringi dengan penanaman kelapa sawit dengan system tanaman pagar.
3.    Lahan pasang surut merupakan lahan yang genangan air nya di pengaruhi oleh pasang surutnya air laut.
4.    Tanaman kelapa sawit bisa dibudidayakan di daerah pasang surut dengan penglolaan tata air dengan pembuatan saluran drainase.
5.    Kelapa merupakan tanaman yang dibudidayakan didaerah pasang surut sejak dahulu.
6.    Tipe tanah yang terdapat di daerah tanjung lago ialah lempung liat berpasir, dan Ph tanah 4,6.


B.  Saran
Dalam praktikum pengelolaan tanaman budidaya dilahan rawa pasang surut hendaknya sebelum praktikum dilaksanakan terlebih dahulu diadakan konsultasi terhadap masyarakat sekitar supaya masyarakat dapat mempersiapkan terlebih dahuluapbila ada kunjungan dari pihak mahasiswa supaya masyarakat dan mahasiswa dapat saling bertukar ilmu atau pengalaman tentang berbudidaya dilahan pasang surut.



DAFTAR PUSTAKA
Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Elfis,2010. ekosistem rawa lebak dan pasang surut gajah mada. Penerbit UI Press, Jakarta.

Hernanto, F. 2010. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya, Jakarta.

Http://1001budidaya.com/budidaya-kelapa-hibrida/diakses pada tanggal 25november    2014.


Nappu, B., dkk. 2003. Analisis Kebijakan Strategis dalam Mendukung Sistem Usahatani Berkelanjutan di Lahan Pasang Surut Sebakung Kalimantan Timur. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 6:81-94.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian (Teori dan Aplikasi). PT. Raja  Grafindo Persada, Jakarta.

Teguh nasa 2012, budidaya tanaman, teknik budidaya dan tata kelola air. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.






LAMPIRAN
    
     GPS untuk melihat letak lokasi                SPAD alat untuk mengukur klorofil daun
   ] Padi yang di tebar dan telah tumbuh                  saluran air yang terdapat pada sawah
     
Saluran air untuk pengankutan kelapa             tanaman kelapa didaerah pasang surut
    
Tanaman sawit yang ditanam didaerah            saluran drainase pada lahan perkebunan

                  pasang surut                                                    kelapa sawit